Oleh: arifrizka | Agustus 28, 2007

Hukum Berbuka Puasa Ramadlan Dalam Perjalanan Menggunakan Pesawat dan Penggunaan Masyaqah Sebagai Illat Hukum Berbuka


 Ditulis oleh Arif Rizka Nurhidayat

Pendahuluan

Seberapa cepatkah perkembangan peradaban manusia, sehingga seringkali muncul masalah-masalah baru yang belum dibahas secara mendetail oleh fiqih. Tapi yang pasti selama satu abad terakhir ini banyak terobosan-terobosan baru yang menjadikan peradaban manusia semakin berkembang begitu pesatnya. Lantas bagaimanakah persoalan-persoalan yang belum terakomodir baik sebagian maupun keseluruhan oeh fiqih. Hal inilah yang menuntut umat islam untuk lebih proaktif menyikapi perkembangan yang begitu cepat.

Kita ambil saja satu contoh yang nampak dalam kehidupan keseharian kita. Alat transportasi semakin cepat sehingga jarak yang begitu jauh dapat kita tempuh dalam waktu yang lebih singkat. Jarak yang dulu harus kita tempuh dalam waktu berhari-hari, kini bisa kita tempuh dalam hitungan jam saja.

Hal ini akan berpengaruh pada hukum islam, seperti puasa misalnya. Apakah masih berlaku rukhsah untuk tidak berpuasa dalam safar, ketika kita menggunakan pesawat sebagai sarana transportasi. Dan kita tahu pesawat merupakan alat transportasi yang begitu cepat dan nyaman, sehingga kita bisa mencapai tujuan lebih cepat dan kesulitan-kesulitan dalam perjalanan bisa dihilangkan. Maka dari itu makalah ini mencoba membahas masalah tersebut dari segi fiqih.

Rumusan Masalah

Dari gambaran singkat diatas, maka dalam pembahasan ini permasalahan akan kita batasi pada:

  • Hukum boleh atau tidaknya berbuka puasa dalam bulan Ramadlan ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat.
  • Boleh atau tidaknya menggunakan masyaqah ( kesulitan ) secara umum sebagai illat hukum kebolehan berbuka puasa di bulan Ramadlan.

Pembahasan

Sebelum kita lebih jauh membahas persoalan diatas, alangkah baiknya jika kami paparkan beberapa hal yang bisa kita jadikan landasan untuk memberikan solusi terhadap kedua persoalan tersebut. Dan perlu diperjelas kembali bahwa konteks puasa dalam makalah ini adalah puasa Ramadlan.

 

1.     Seputar rukhsah dalam puasa Ramadlan

Mungkin perlu kami paparkan terlebih dahulu beberapa hal seputar rukhsah dalam puasa Ramadlan yakni orang-orang yang mendapat rukhsah dan diperbolehkan untuk berpuasa beserta pendapat para ulama dalam pembagiannya, serta lebih utama mana antara menggunakan rukhsah atau tetap berpuasa.

 

Orang-orang yang diperbolehkan berbuka puasa

Ada beberapa golongan orang yang diberi rukhsah untuk tidak berpuasa di bulan Ramadlan. Akan tetapi ada perbedaan dalam pembagian golongan-golongan tersebut. Berikut ini beberapa pendapat tentang pembagian golongan yang diperbolehkan untuk berbuka.

Sayyid sabiq orang yang berbuka pada bulan Ramadlan membagi menjadi 3 golongan yaitu:

  • Orang yang diberi keringanan berbuka dan wajib mengqadla

Yaitu bagi orang sakit yang ada harapan sembuh dan bagi musafir

  • Orang yang diberi keringanan berbuka dan wajib membayar fidyah

Yaitu orang tua renta, orang sakit yang sudah tidak ada harapan untuk sembuh,orang-orang yang mempunyai pekerjaan berat yang tidak mendapatkan pekerjaan selain yang mereka kerjakan.

  • Orang yang wajib berbuka dengan menqadla

Wanita yang sedang haid atau nifas.(Sayyid  Sabiq, 1984, Fiqhus Sunnah, jilid I : 371-375)

Sedangkan Ibnu Rusyd dalam kitab bidayatul mujtahid wa nihayatul muqtashid juga membagi menjadi 3 golongan yakni:

  • Orang yang boleh berbuka maupun berpuasa

Orang yang sakit, musafir, wanita hamil, wanita menyusui, orang lanjut usia.

  • Orang yang wajib berbuka puasa
  • Orang yang tidak boleh berbuka puasa. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, jilid I: 215)

Dalam kitab kasyafatus sajan, disebutkan bahwa yang diperbolehkan untuk berbuka puasa adalah:

  • Musafir
  • Orang sakit
  • Orang tua renta
  • Wanita hamil
  • Wanita menyusui
  • Orang yang betul-betul kehausan. (Abi ‘abdul mutha’, Kasyafatus Sajan, hal 121)

Pembagian-pembagian diatas pada hakekatnya sama saja, hanya saja Sayyid Sabiq dan Ibnu Rusyd mengolongkannya pada kriteria-kriteria yang lebih umum, dan keduanya memandang dari sudut yang agak berbeda. Sayyid Sabiq menyertakan konsekuensi logis orang yang berbuka puasa dalam menggolongkannya. Sedangkan Ibnu Rusyd menggolongkannya berdasarkan tingkat kebolehan itu sendiri.

 

Safar yang dibolehkan untuk berbuka puasa

Safar yang diperbolehkan untuk berbuka adalah safar yang menempuh jarak yang kita diperbolehkan untuk melakukan qashar ( yaitu sekitar 89 km ). (Wahbah az-zuhaily, DR, Alfiqh al-islami wa adilatuhu,hal.641)

Adapun jumhur mensyaratkan bahwa perjalanan harus berangkat sebelum terbit fajar. Sedangkan menurut hanafi, boleh berbuka meskipun berangkat pada siang hari. Dan menurut malikiy ada empat syarat yang harus dipenuhi, yaitu harus dalam jarak yang embolehkan untuk melakukan qashar dalam shalat, perjalanan dilakukan untuk urusan yang diperbolehkan oleh syar’iy, menyegerakan berangkat sebelum fajar, sudah ada niatan tidak berpuasa dari rumah.

Lebih utama menggunakan rukhsah untuk berbuka atau tetap berpuasa

Kebolehan untuk berbuka puasa merupakan rukhsah dari Allah. Dan justru disinilah terjadi perbedaan tentang penggunaan rukhsah tersebut. Apakah lebih utama untuk memanfaatkan rukhsah tersebut ataukah mengabaikannya dan tetap menjalankan puasa. Ada tiga golongan pendapat tentang penggunaan rukhsah ini:

  • Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa berpuasa itu lebih utama meskipun dalam kondisi yang diperbolehkan untuk berbuka.
  • Imam ahmad dan segolongan fuqaha berpendapat bahwa berbuka itu lebih utama daripada berpuasa.
  • Sebagian yang lain berpendapat bahwa hal itu diserahkan kepada orang yang bersangkutan, dan salah satunya tidak ada yang lebih utama dari yang lain. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, jilid I: 216)

Bahkan fuqaha Zhahiri berpendapat bahwa puasanya tidak mencukupi ketika kita bepergian atau sakit, karena kewajibannya terletak pada hari yang lain (selain Ramadlan). Akan tetapi jumhur berpendapat bahwa puasanya tetap mencukupi. Silang pendapat ini terjadi karena ketidakjelasan ayat 184 dari surat al-baqarah antara harus dibawa kepada arti hakiki, hingga karenanya dalam firman tersebut tidak perlu ada kata yang mahdzuf, atau harus dibawa kepada arti majazi, sehingga diperkirakan firman tersebut berbunyi:…. (Lalu ia berbuka), maka hendaklah ia memperhitungkan pada hari-hari yang lain. Pembuangan kata-kata dalam kalimat seperti ini, menurut ahli bahasa disebut dengan lahnu’l-khithab.

…..فمن كان منكم مريضا او على سفر فعدّة من ايّام اخر

Artinya : barang siapa di antaramu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka wajib memperhitungkannya di hari lain ( Al-baqarah :184)

Bagi fuqaha yang mengartikan secara hakiki, maka wajibnya puasa bagi musafir dan orang sakit adalah menunggu sampai hari-hari yang lain, sehingga ayat tersebut berarti:…..maka hendaklah ia memperhitungkan pada hari-hari yang lain. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid, jilid I: 215-216)

2.     Pengertian, syarat-syarat, pembagian, dan cara mencari illat

Untuk menetapkan apakah masyaqah bisa digunakan sebagai illat hukum kebolehan berbuka, maka perlu kami sampaikan beberapa hal yang bisa kita gunakan sebagai metodologi untuk menetapkan illat dari suatu hukum.

Illat adalah sifat dan keadaan yang melekat pada dan mendahului peristiwa/perbuatan hukum yang terjadi dan menjadi sebab hukum ashal yang sifat itu menjadi dasar untuk mengetahui hukum pada fara’ (Abdul wahab khalaf,1978 M, ilmu usulul fiqh, hal. 63). Karena pencarian illat hukum biasanya dipakai dalam qiyas, maka kami mengambil pengertian dan syarat-syarat yang dipakai dalam qiyas.

 

Syarat-syarat illat

Adapun syarat-syarat illat yang dipakai dalam qiyas dan disepakati para ulama ada 4 yaitu:

  • Sifat illat hendaknya nyata, masih terjangkau oleh akal dan pancaindera.
  • Sifat illat hendaknya pasti, tertentu, terbatas, dan dapat dibuktikan illat itu ada pada fara’, karena azas illat ialah adanya persamaan illat antara ashal dan fara’.
  • Illat harus berupa sifat yang sesuai dengan kemungkinan hikmah hukum, dalam arti bahwa besar dugaan bahwa illat itu sesuai dengan hikmah hukumnya
  • Illat itu tidak hanya terdapat pada ashal saja, tetapi harus sifat yang dapat pula diterapkan pada masalah-masalah lain selain dari ashal itu.( Abdul wahab khalaf,1978 M, ilmu usulul fiqh, hal. 68-70)

 

Pembagian illat

Ditinjau dari segi ketentuan pencipta hukum (syari’) tentang sifat apakah sesuai atau tidak dengan hukum maka ulama ushul membaginya  menjadi 4, yaitu:

  • Munasib mu’tsir, yaitu persesuaian yang diungkapkan oleh syara’ dengan sempurna, atau dengan perkataan lain bahwa pencipta hukum (syari’)telah menciptakan hukum sesuai dengan sifat itu.
  • Munasib mula’im, yaitu persesuaian yang diungkapkan syara’ pada salah satu jalan saja. Maksudnya ialah persesuaian itu tidak diungkapkan sebagai illat hukum pada masalah yang dihadapi, tetapi diungkapkan sebagai illat hukum dan disebut dalam nash pada masalah yang lain yang sejenis dengan hukum yang sedang dihadapi.
  • Munasib mursal, yaitu munasib yang tidak dinyatakan dan tidak pula diungkapkan oleh syara’. Munasib mursal berupa sesesuatu yang nampak oleh mujtahid bahwa menetapkan hukum atas dasar mendatangkan kemaslahatan, tetapi tiada dalil yang menyatakan bahwa syara’ membolehkan atau tidak membolehkannya, seperti membukukan al-qur’an dalam satu mushaf.
  • Munasib mulghaa, yaitu munasib yang tidak diungkapkan oleh syara’ sedikitpun, tetapi ada petunjuk ada petunjuk yang menyatakan bahwa menetapkan hukum atas dasarnya diduga dapat mewujudkan kemaslahatan. Dalam pada itu syara’ tidak menyusun hukum sesuai dengan sifat atau illat tersebut, bahkan syara’ memberi petunjuk atas pembatalan sifat tersebut.( Abdul wahab khalaf,1978 M, ilmu usulul fiqh, hal. 71-75)

 

Cara mencari illat

Masalikul illat ialah cara atau metode yang digunakan untuk mencari sifat atau illat dari suatu peristiwa atau kejadian yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan hukum, diantara cara tersebut, ialah:

  • Nash yang menunjukkannya

Dalam hal ini nash sendirilah yang menerangkan bahwa suatu sifat merupakan illat hukum dari suatu peristiwa atau kejadian. Illat yang demikian disebut illat manshush ‘alaih. Melakukan qiyas berdasarkan illat yang disebutkan oleh nash pada hakikatnya adalah menetapkan hukum sesuatu berdasarkan nash. Cara ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:

  1. Dalalah Sharahah, ialah penunjukan lafadz yang terdapat dalam nash kepada illat hukum sangatlah jelas. Atau dengan kata lain bahwa lafadz nash itu sendiri yang menunjukkan illat hukum dengan jelas.
  2. Dalalah ima’ (isyarah), ialah petunjuk yang dipahami dari sifat yang menyertainya, atau dengan perkataan lain ialah ada suatu sifat yang menyertai petunjuk itu dan sifat itu merupakan illat ditetapkannya suatu hukum.
  • Ijma’ yang menunjukkannya

Illat yang dijadikan dasar suatu hukum ditetapkan melalui ijma’. Dan hal ini disepakati oleh para ulama’

  • Assabru wa at-taqsim

As-sabru berarti meneliti kemungkinan-kemungkinan dan At-taqsim berarti menyeleksi atau memisah-misahkan. Sehingga As-sabru wa At-taqsim adalah meneliti kemungkinan-kemungkinan sifat-sifat pada suatu peristiwa atau kejadian, kemudian memisahkan atau memilih diantara sifat-sifat itu yang paling tepat dijadikan illat hukum. Metode ini dipakai jika ada nash tentang suatu peristiwa akan tetapi tidak ada nash ataupun ijma’ yang menerangkan illatnya.( Abdul wahab khalaf,1978 M, ilmu usulul fiqh, hal. 75-78)

 

3.     Analisa masalah

Setelah mencermati ulasan di atas maka kita bisa memberikan analisa terhadap dua masalah yang diajukan, yaitu boleh atau tidaknya berbuka puasa di bulan Ramadlan dalam perjalanan menggunakan pesawat serta boleh tidaknya menggunakan masyaqah sebagai illat kebolehan berbuka.

 

Boleh atau tidaknya berbuka ketika puasa Ramadlan dalam perjalanan menggunakan pesawat.

Dengan mencermati ayat 184 dari surat Al-baqarah, dapat kita ambil makna bahwa orang yang dalam perjalanan diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan memperhitungkannya di hari selain bulan Ramadlan atau yang biasa kita sebut Qadla. Dan perjalanan itulah yang menjadi illat diperbolehkannya berbuka. Penentuan illat ini menggunakan nash yang yang langsung menunjukkan illat tersebut dengan jalan dilalatul ima’ (isyarah), dan termasuk dalam munasib mu’tsir.

Sehingga ketika illat ini, yakni perjalanan, terpenuhi maka hukum tersebut berlaku dan kita boleh untuk berbuka, meskipun kita kuat untuk tetap berpuasa. Karena dalam konteks ini yang menjadi illat hukum bukanlah masyaqah, akan tetapi safar.

Sedangkan jika kita kaitkan dengan perjalanan yang membolehkan untuk mengqashar shalat dalam kitab Wahbah az-zuhaily, DR, Alfiqh al-islami wa adilatuhu,hal. 320, Dijelaskan bahwa tetap diperbolehkan untuk mengqashar shalat dalam perjalanan yang telah memenuhi jarak untuk melakukannya, meskipun perjalanan tersebut dilakukan dengan lebih cepat. Sehingga begitu juga dalam puasa, yang menjadi dasar adalah jarak yang ditempuh, bukan seberapa cepat kita mencapai tempat tujuan. Maka meskipun kita naik kendaraan yang bisa mencapai tempat tujuan dengan lebih cepat, maka hal itu tidak akan membatalkan rukhshah untuk berbuka.

Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh muslim yang menyebutkan bahwa: Hamzah Aslami bertanya kepada Rasulullah SAW: “ Ya Rasulullah, saya merasa kuat untuk berpuasa dalam perjalanan. Salahkah bila saya melakukannya?’ kemudian Nabi menjawab: Itu adalah keringanan dari Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang menerimanya, itu adalah baik, dan siapa yang masih ingin berpuasa, maka tidak ada salahnya.

Apapun kendaraan yang kita gunakan tidak bisa membatalkan illat tersebut yaitu safar. Allah maha mengetahui apa yang akan terjadi pada perubahan keadaan dan munculnya beraneka macam sarana transportasi. Sekiranya hukum itu berbeda, maka tentu Allah  akan mengingatkan hal tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-nahl: 8,

Artinya : “Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (An-nahl:8)

 

Boleh tidaknya menggunakan masyaqah (kesulitan) sebagai illat kebolehan berbuka

Adapun penggunaan masyaqah (kesulitan) sebagai illat hukum untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadlan adalah boleh. Illat ini juga diambil karena adanya nash Al-qur’an yang menyebutkan illat tersebut secara dilalatul ima’ (isyarat) pada ayat yang sama, yakni Al-baqarah: 184.

Artinya : “ Dan bagi yang sangat merasa berat melaksanakan puasa, diwajibkan membayar fidyah dengan cara memberi makan kepada orang-orang miskin”. (Al-baqarah: 184)

Akan tetapi tingkat kesulitan itu sendiri tentunya memang benar-benar menyebabkan seseorang tersebut tidak memungkinkan untuk berpuasa. Sedangkan menurut syekh Muhammad Abduh: “ Yang dimaksud dengan orang-orang yang sulit melakukannya dalam ayat tersebut ialah orang-orang tua yang telah lemah dan orang-orang sakit menahun dan yang sama keadaannya dengan mereka seperti pekerja-pekerja yang pekerjaan mereka amat berat dan tidak ada pekerjaan selain itu”. (Sayyid  Sabiq, 1984, Fiqhus Sunnah, jilid I : 371)

 Kesimpulan

Dari landasan dasar, metodologi, serta analisa yang telah disampaikan diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1.     Boleh hukumnya untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadlan ketika melakukan safar, meskipun perjalanan tersebut menggunakan pesawat maupun kendaraan yang lainnya.

2.     Masyaqah bisa dijadikan illat untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadlan, dalam batasan memang benar-benar tidak memungkinkan untuk berpuasa.

Demikianlah kesimpulan dari pembahasan seputar rukhsah puasa dalam safar serta menjadikan masyaqah sebagai illat untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadlan. Wa Allahu A’lam.

Daftar Pustaka

-          Al-qur’anul karim dan terjemahan artinya. 2002. Yogyakarta: UII Press

-          Abdul Wahab Khalaf. 1978. Ilmu Ushul Fiqh. Kairo: An-nasyir

-          Abdurrahman aljaziriy. 1964. Al fiqhu ‘ala madzahibil arba’ah. Istanbul: Al-hakikiyah

-          Abi ‘abdul mutha’. Kasyafatus Sajan. Surabaya: Al-hidayah

-          Ibnu Rusyd. 595. Bidayatul Mujtahid Wa An-nihayatul Muqtashid. Semarang: Thoha Putra

-          Sayyid Sabiq. 1978. Fiqhus Sunnah. Beirut: Daarul Fikri

-          Wahbah al-zuhaily,DR. 1984. Al-Fiqh Al-Islami Wa’adilatuh. Damaskus: Jamii’ul hquuq mahfudhah.

-          Zainudin bin Abdul Aziz. Fathul Mu’in bi syarhi qira’atil’ain. Indonesia: Daaru ahya’il kitabil Arabiyah

About these ads

Responses

  1. Mas, bagaimana hukum puasa bagi orang yang tinggal di tempat yang tidak ada siang dan malamnya, seperti di kutub utara dan selatan. Apakah mereka wajib berpuasa? Kapan waktunya mereka sahur, imsak, dan berbuka?
    atau, hukum puasa di negara yang waktu siangnya lebih pendek dari waktu malamnya….

    Thank’s…

  2. susahnya mencari makan untuk sahur, dalam pandangan saya bukan termasuk dalam masyaqah (kesulitan) yang dapat dijadikan alasan untuk tidak berpuasa. “merasa berat” yang dimaksud dalam surat al-baqarah:184, adalah keadaan yang memang benar-benar tidak memungkinkan untuk berpuasa. orang-orang yang memang sudah tua dan lemah, misalnya, tidak ada lagi celah yang memungkinkan dia untuk tetap berpuasa. sedangkan sulit mencari makan sahur tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak berpuasa. dengan alasan, pertama, kita tetap bisa berpuasa meskipun tidak sahur karena sahur hanyalah sunnah puasa. kedua, kita tetap bisa menjalankan sunnah puasa tersebut (sahur) meskipun hanya dengan segelas air putih. ketiga, masih banyak solusi lain mengenai makanan sahur, seperti: mie instan atau sejenisnya. semoga bermanfaat. Wa Allahu A’lam

  3. Apakah saya wajib berpuasa dinegri orang?

    Assalamu’alaikum wr wb
    Ceritanya saya mau bepergian keluarnegri dimana penduduknya mayoritas orang2 Non – Muslim. Pengalaman saya dalam perjalanan terdahulu (tdk dalam bulan puasa) tuk mencari makan susahnya bukan main dinegeri orang kalautoh ada saya juga masih berpikir HALAL tidak, bisa dibayangkan bila hal ini terjadi dibulan Puasa. Rumah makan tentunya tidak ada yang buka malam hari. Bagaiman jika puasanya saya ganti dibulan setelah ramadhan?
    Demikian & Tks
    Wassalamu’alaikum wr wb


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: