Oleh: arifrizka | Agustus 28, 2007

Menyingkap Rahasia Taqwa

Oleh: Atpas Feri, SHI

Sesungguhnya Allah tidak melihat Jasadmu, dan tidak pula pada bentuk wajahmu, melainkan ia melihat kepada hatimu.” (Muttafaqun alaih)

Hadits tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia karena manusia itu sendiri merupakan ciptaan Allah SWT, baik dari sisi jamaniyah maupun rohaniyahnya. Hidup kita ini tergolong kepada dua unsur yang saling ketergantungan, yaitu jasmani dan rohani: Pertama, Jasmani. Jasmani manusia merupakan bentuk jasad yang telah Allah ciptakan sesempurna mungkin dari makhluk lain, baik dari segi akal (hayawanun nathiq), binatang (ghoirun nathiq), maupun malaikat (pembawa tugas dari Allah) dan jin yang memiliki tubuh halus sehingga sulit dilihat oleh manusia dengan mata telanjang, kecuali bagi orang-orang tertentu. Maka, jasmani membutuhkan makan agar energi-energi manusia yang ada di dalam jasadnya bisa bangkit dan mampu menjalankan aktifitasnya dan kita juga telah mengetahui bahwa kebutuhan jasmani itu adalah butuh kepada makan, minum, pekerjaan (baik itu dikantor ataupun di lapangan) dan juga menuntut bagi pelajar agar tidak ketertinggalan dengan zaman serta aktifitas-aktifitas lagi yang dibutuhkan oleh jasmani. Inilah yang sangat dibutuhkan oleh jasmani.

Kedua, Rohani. Itu merupakan bentuk roh yang ada di dalam jasad dan juga Allah ciptakan untuk manusia agar manusia bisa bergerak merasakan senang, sakit, sedih, bahagia, cemas, takut dan berani. Itu semua Allah ciptakan agar manusia menyadari bahwa roh juga merupakan unsur atau bagian dari jasad. Oleh karena itu, rohani juga butuh makan agar sifat-sifat diatas dapat terpenuhi secara maksimal, baik itu berhubungan dengan manusia maupun berhubungan dengan Allah SWT. Maka kalau kita kategorikan kebutuhan rohani itu adalah; rohani butuh makan melalui cermah-ceramah agama, bersedakah karena Allah SWT, melaksanakan shalat lima waktu, menjalankan puasa wajib dan dianjurkan puasa sunnah, membayarkan zakat, dan berkurban. Hal inilah yang nanti menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Karena hakekatnya di dunia ini yang bermain hanyalah jasad sementara di akhirat adalah roh.

Meraih muslim modern

Kedua unsur ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, karena ia saling berkaitan dan memiliki fungsinya masing-masing. Seandainya jasmani saja yang diutamakan sementara kebutuhan rohaninya dilupakan begitu saja, maka yang terjadi adalah ketidak seimbangan hidup. Artinya kita bisa saja menjadi anarkhis atau lepas kendali dari rel-rel yang telah ditentukan, yang akan mengakibatka kehancuran dan kerusakan yang menyakiti jasad ataupun tubuh kita sendiri. Misalnya; “mobil atau motor dengan remnya, apabila mobil itu berjalan dengan kencang tetapi memiliki rem yang sudah rusak maka sama artinya bunuh diri.” Begitu juga antara jasmani dan rohani, apabila tidak diimbangi antara keduanya, hanya mengutamakan pekerjaan, menuntut ilmu, makan dan tidur deng melupakan unsur-unsur rohani yang perannya sebagai rem dan penunjuk jalan, baik yang berkenaan dengan dasar-dasar agama maupun doa-doa yang diajukan kepada Allah SWT dan unsur ini dilupakan maka sama artinya memperoleh sesuatu yang belum tentu Allah ridha dengan apa yang telah diberikan oleh Nya.

Pada hakikatnya, Allah SWT tidak mengutamakan wajahmu yang cantik ataupun tampan, bukan kepada hartamu yang banyak atau miskin, melainkan yang Allah lihat itu adalah hanya kepada hatimu yang bersih dan suci. Apalah artinya paras wajah yang cantik ataupun tampan bagi Allah, padahal wajah yang tampan itu hanya Allah yang menciptakannya. Dan apalah artinya bagi Allah hartamu yang banyak sementara harta itu sendiri Allah yang menganugerahkannya, Namun yang lebih berharga itu bagi Allah adalah hatimu yang betul-betul ikhlas hanya semata-mata karena Allah pada setiap aktifitas yang dilakukan tersebut. Artinya sejauhmana kita mampu menyeimbangkan antara jasmani dan rohani. Karena jasmani tanpa rohani seperti “jalan raya yang tidak memiliki rambu-rambu lalu lintas.” Namun rohani tanpa diiringi oleh kebutuhan jasmani bagaikan “orang primitif yang tidak mengerti perkembangan zaman.” Oleh karenanya apabila jasmani dan rohani dipadukan satu sama lin maka itulah yang disebut muslim modern.

Tingkatan taqwa

Banyak dari kalangan ulama berpendapat bahwa taqwa itu adalah “takut” yang berarti mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya. Sementara ada juga yang berpendapat bahwa “berhati-hati terhadap segala sesuatu yang membawa kita terjerumus kepada dosa dan neraka.”

Hakekatnya seluruh ungkapan itu sama saja, hanya saja Imam Al-Ghazali lebih memberikan perincian lagi secara jelas tentang tingkatan taqwa itu sendiri pada diri manusia: Pertama, tingkatan yang paling rendah (al-adna), yaitu seorang hamba muslim yang melakukan amal kebaikan hanya sekedar melaksanakan kewajibannya saja yang telah diperintahkan oleh Allah. Taqwa yang seperti ini, bisa kita temukan pada diri kita, apabila setiap amal kebaikan yang kita lakukan merasa terpaksa. Secara kewajiban sudah terpenuhi dan sudah lepas kewajiban yang yang telah diperintahkan oleh Allah, hanya saja apakah ia mendapatkan pahala ataupun hanya sedikit pahala dari Allah, maka hal itu diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Kedua, tingkatan menengah (al-wustha). Seorang hamba yang beramal kebaikan dengan mengharapkan pahala dan syorganya Allah SWT. Maka tingkatan ini bisa juga kita jumpai dalam diri kita ataupun hamba yang lainnya. Selama niatnya untuk amalannya hanyalah semata-mata mengharpak syurga dan pahala bukan karena keridhaan Allah SWT.

Ketiga, tingkatan yang paling tinggi (al-a’la). Seorang hamba yang yang beramal kebaikan semata-mata mengharpkan keridhaan Allah SWT. Tingkatan inilah yang paling sulit didapatkan oleh manusia karena hal ini menyangkut kesabaran, keikhlasan, keyakinan, dan keistiqomahan yang semata-mata diperuntukan karena Allah SWT. Artinya setiap shalat, puasa, zakat, pekerjaan kita di kantor atupun di lapangan, menuntut ilmu, bersedakah, dan seluruh amal-amal kebajikan yang telah diatur oleh Allah, itu semua hanya semata-mata diperuntukan kepada Allah SWT.

Seandainya tingkatan taqwa yang ketiga ini telah didapatkan, maka seluruh pahala , syurga, dan doa-doa yang kita aturkan kepada Allah akan maqbul alias mustajab. Sekalipun menurut Imam Al-Ghazali, hal ini sulit didapatkan, namun manusia memiliki kewajiban ikhtiyar untuk mendapatkan keridhaan Nya. Seluruh yang ada di alam jagad raya ini akan selalu dipermudah oleh Allah untuk kita selama kita berusaha meraih keridhaan Nya. Apalagi permasalahn yang komplit yang terjadi di Indonesia saat ini, akan mudah teratasi jika para tokoh-tokoh tersebut bisa berlaku ridha dan ikhlas dalam bekerja.

Tetapi, jika ketiga tingkatan tersebut diatas tidak terdapat di dalam diri kita sebagai seorang hamba, maka hamba tersebut tergolong orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat setelah mengalami proses kematiannya. Karena orang muslim belum tentu mukmin, akan tetapi ornang mukmin sudah pasti muslim.

Manusia tidak bisa hidup dalam satu sisi saja. Artinya keberadaan jasmani atau lahiriyah saja diutamakan , sementara kebutuhan rohaninya dilupkan, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan hidup. Pada hal antara jasmani dan rohani tersebut berjalan secara seimbang, agar hidup ini terasa stabil dan menemukan shirathal mustaqim (jalan yang lurus).

Surga dunia

Allah memberikan istidraj kepada orang musyrik maupun orang kafir. Karena bagi Allah syurga yang mereka dapatkan itu hanyalah syurga yang ada di dunia saja, sementara di akhiratlah tempat mereka kembali. Maka ini diberi nama istidraj.

Istidraj ddalam majalah As-sunnah dari Universitas Al-Azhar Kairo Edisi 2000 mengartikan bahwa “Allah bersifat Ar-rahman memberikan seluruh keinginan seorang hamba tersebut, apakah ia non muslim ataupun yang muslim tanpa memberikan satu sifat yang Allah miliki yaitu Ar-rahim penyayang.” Jadi kalau di dalam Al-quran tertulis bismillah hirrahman nirrahim (Allah maha pengasih lagi maha penyayang), maka bagi yang Allah kenakan istidraj kepada seorang hamba tersebut, hanya sebatas ar-rahman (maha pengasih) saja, tetapi belum tentu ar-rahim (maha penyayang). Oleh karena itu setiap keinginannya selalu dikabulkan oleh Allah, sebab Allah bersifat ar-rahman tapi belum tentu ar-arrahim kepada mereka dan yang mereka peroleh itu hanya kebahagiaan di dunia dan belum tentu di akhirat nantinya.

Alngkah sedihnya nasib seseorang apabila ia dikenakan satu sifat dari semacam sifat ini. Sesungguhnya Allah mengharpkan kepada hamba tersebut bersifat ikhlas dan selalu berharap agar setiap tindakan ataupun aktifitas yang dilakukan hamba tersebut hanyalah semata-mata berusah mencapai keridhaan Nya sekalipun untuk mencapai keridhaan ini sulit , namun Islam menganjurkan agar kita berusaha untuk meraihnya.

Dunia ini hanyalah sebatas persinggahan belaka, tujuan hidup kita sebenarnya hanyalah akhirat. Disamping itu kita juga harus bisa mengalahkan dunia ini dengan ilmu dan kemampuan yang kita miliki. Karena Islam tidak menghalangi seseorang untuk berbuat sesuatu melainkan hanya untuk sekedar membatasi hal-hal yang bisa nantinya merugikan diri kita sendiri. Bahkan Islam memberikan petunjuk yang jelas dan memotivasi setiap individu secara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.

Oleh karena itu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani tidak dapat dipisahkan satu sama lain, jika salah satunya dilupakan maka yang terjadi adalah kesimpangsiuran hidup dan keseimbangan di dunia ini. Artinya jika rohani yang dimajukan maka seperti “orang primitive yang tidak mau mengetahui perkembangan zaman.” Maksudnya adalah hamba tersebut hanya berzikir dan berzikir, padahal hidup ini juga butuh pekerjaan dan aktifitas yang lain, yang itu hanya di dapatkan di dalam kebutuhan jasmani.


Responses

  1. subhanallah

  2. Ass wr.wb
    Ana sedang belajar menjalankan puasa daud,…apakah itu bisa dikatakan mencapai tingkatan muttaqin

  3. bagus ya ada 3 tingkatan taqwa, tp mau tanya ya arti taqwa itu dalam alquran apa ya?? saya pernah tahu maksud taqwa itu sabar, syukur dan menerima taqdit tapi saya lupa surat nya apa dulu ada di khutbah jumat, terima kasih atas jawabannya. salam.

  4. Aku baru Bermuasabah..,Umurku sudah 48 tahun,sedangkan aku mulai berpuasa umur 10 tahun berarti aku dah 30 kali berpuasa di bulan Ramadhon, permasalahannya ..tak rasa-rasa tingkatan/tahapan keimanan ku baru sampai Iman saja…kapan ya aku bisa Ihsan dan Mutaqin.??? mohon kiat kongkrit dari Shobat Muslim


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: