Oleh: arifrizka | Agustus 28, 2007

Rekonstruksi Paradigma Pendidikan untuk Mewujudkan Masyarakat Terdidik

Ditulis oleh Arif Rizka Nurhidayat

Makna Pendidikan

Masyarakat terdidik dapat dipahami sebagai sekumpulan manusia yang telah mendapatkan pendidikan. Dalam arti khusus, langeveld mengemukakan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya (Uyoh Sadullah, Drs. M.Pd., Pengantar filsafat Pendidikan, hlm. 54). Ketika telah mencapai kedewasaanya, maka tiba gilirannya untuk memberikan bimbingan kepada anak yang belum dewasa. Maka pendidikan akan terus berjalan dalam sejarah kehidupan manusia. Karena manusia dijuluki sebagai animal educandum dan animal educandus sekaligus, yaitu sebagai makhluk yang dididik dan makhluk yang mendidik (Fuad Hassan, Pendidikan adalah Pembudayaan, dalam tonny D. Widiastono (editor), Pendidikan Manusia Indonesia, hlm. 52).

Sebagai animal educandum dan animal educandus, maka pendidikan tidak bisa lain kecuali dipahami sebagai ikhtiar pembudayaan, dan ikhtiar ini pula yang melatari sejarah kemanusiaan sebagai sejarah perkembangan peradaban (Fuad Hassan, Pendidikan adalah Pembudayaan, dalam tonny D. Widiastono (editor), Pendidikan Manusia Indonesia, hlm. 55).

Henderson memberikan arti yang lebih luas, pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, merupakan alat bagi manusia untuk pengembangan manusia yang terbaik dan inteligen, untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya (Uyoh Sadullah, Drs. M.Pd., Pengantar filsafat Pendidikan, hlm. 55).

Pergeseran Makna Pendidikan

Dengan pengertian pendidikan seperti diatas, maka sulit menentukan ukuran manusia terdidik. Karena manusia terdidik adalah manusia yang telah mencapai kedewasaanya. Sementara ukuran kedewasaan masih menjadi sebuah perdebatan dan tidak memiliki ukuran yang jelas dan pasti. Maka dibuatlah sebuah legalitas berdasarkan tingkatan pendidikan formal. Dan ijazah maupun sejenisnya, nampaknya menjadi pilihan solusi untuk menentukan antara ”manusia terdidik” dan ”manusia tak terdidik”. Sehingga bisa dilihat siapa yang ”terdidik” dan siapa yang ”tak terdidik”.

Akan tetapi persoalannya tidak cukup sampai disitu. Seringkali substansi pendidikan justru dilupakan. Sudah cukup bagi siswa untuk menghafal apa yang diajarkan guru, kemudian menulis ulang jika ditanyakan dalam ujian. Baginya, yang penting mendapat nilai bagus agar bisa lulus dan mendapat pengakuan sebagai ”manusia terdidik” tanpa peduli terhadap pemahaman dan aplikasinya. Sehingga sekolah hanya menjadi belenggu karena hanya sebatas transfer pengetahuan.

Foucoult dalam The Arceology, menyatakan Pendidikan yang membelenggu merupakan transfer pengetahuan, sedang yang membebaskan merupakan upaya untuk memperoleh pengetahuan dan menjadi proses transformasi yang diuji dalam kehidupan nyata (Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan universal di era modern dan post modern, hlm. 178).

Dan sekolah selama ini keberadaannya justru membawa dikotomi dua hal yang sangat urgen dalam mendinamisir ilmu pengetahuan; yaitu mengetahui pengetahuan yang sudah ada dan menciptakan pengetahuan baru (Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan universal di era modern dan post modern, hlm. 178). Jika yang terjadi hanya proses transfer pengetahuan yang sudah ada maka pendidikan sebagai ikhtiar pembudayaan yang melatari sejarah kemanusiaan sebagai sejarah perkembangan peradaban tidak akan tercapai.

Sehingga pendidikan dalam hal ini sekolah, tidak lebih hanya sebagai ruang komersialisasi pengetahuan. Pengetahuan dalam konteks komersial adalah pendidik (guru atau profesor) menjual pengetahuan dengan cara menyampaikan pengetahuan yang mereka punya. Guru atau profesor tidak lagi menjadi seorang yang ahli dan kompeten, tetapi penjual pengetahuan. Secara praktis, hal itu berarti pengetahuan yang sudah diterima, diwarisi oleh mereka yang tidak memiliki ilmu pengetahuan (Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan universal di era modern dan post modern, hlm. 178).

Merekonstruksi Paradigma Pendidikan dalam Upaya Membangun Masyarakat Terdidik

Dapat diambil pengertian bahwa masyarakat terdidik adalah mayarakat yang telah mencapai tingkat kedewasaan, dalam artian dapat menyelesaikan berbagai masalah kehidupan, sehingga mampu memacu perkembangan peradaban. Maka bukan sekedar mengetahui pengetahuan yang sudah ada, akan tetapi juga mampu mengembangkan dan menciptakan pengetahuan baru. Jika kondisi ideal tersebut dapat dicapai maka pendidikan akan bisa mengambil peranan yang cukup besar dalam pembangunan

Zamroni menjelaskan dua paradigma berkaitan dengan peranan pendidikan dalam pembangunan. Pertama, paradigma fungsional; dan kedua paradigma sosialisasi. Paradigma fungsional melihat bahwa keterbelakangan dan kemiskinan lebih disebabkan karena masyarakat tidak cukup memiliki ilmu pengetahuan, kemampuan, dan sikap modern. Sementara paradigma sosialisasi, memandang peranan pendidikan adalah: (1)mengembangkan kompetensi individu, (2)meningkatkan produktifvitas, (3)meningkatkan kemampuan warga masyarakat dalam upaya memajukan kehidupan masyarakatnya secara keseluruhan (Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan universal di era modern dan post modern, hlm. 182).

Namun kedua paradigma tersebut memiliki ekses-ekses negatif dalam praktek pendidikan di indonesia. Sebagaimana analisis yang diberikan Zamroni. Pertama, telah melahirkan paradigma pendidikan yang bersifat analitis-mekanistis dengan mendasarkan pada doktrin reduksionisme dan mekanistik. Reduksionisme pendidikan melihat anak didik secara tidak utuh dan terpecah-belah. Akibat dari penglihatan ini, maka sistem pendidikan lebih mementingkan formalisasi dari pada substansinya. Nilai, rangking, indeks prestasi, NEM, dan ijazah, menjadi lebih penting dari pada pembentukan kepribadian siswa secara utuh. Sementara paradigma mekanistik, pendidikan dipandang sebagai input-proses-output, yang menjadikan sekolah sebagai proses produksi. Anak didik dipandang sebagai raw-input, sementara guru, kurikulum, dan fasilitas diperlakukan sebagai instrumental input. Jika raw-input dan instrumental input baik, maka akan menghasilkan proses yang baik dan akhirnya baik pula produk yang dihasilkan. Paradigma jenis ini jelas memiliki banyak kelemahan, diantaranya sistem yang bersifat mekanistik dan anak didik diperlakukan bagai barang produksi (Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan universal di era modern dan post modern, hlm. 183).

Formalisasi yang tadinya dijadikan solusi untuk mengukur tingkat pendidikan, justru menjadi sebuah belenggu dan mereduksi substansi pendidikan itu sendiri. Pendidik lebih memilih semua siswa bisa lulus dalam ujian akhir meskipun dengan memberikan contekan kepada anak didiknya, sebagaimana banyak kasus yang terjadi akhir-akhir ini, ketimbang menekankan nilai-nilai kejujuran dan percaya pada diri sendiri kepada para siswanya. Keuntungan jangka pendek lebih dipilih dari pada manfaat jangka panjang dan justru pendidiklah yang telah menghancurkan masa depan dan kehidupan anak didiknya.

Selama ini kita lihat betapa pendidikan telah diredusir sebagai proses untuk lulus EBTANAS atau UMPTN tetapi tidak diarahkan kepada membentuk masyarakat yang bermoral dan beradab. Sesuai dengan UUD 1945, pendidikan seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini berarti pendidikan adalah usaha untuk memberdayakan manusia. Manusia yang berdaya adalah manusia yang dapat berpikir kreatif, yang mandiri, dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakatnya. Pendidikan kita selama ini dalam proses, metodologi, sistem, telah menghasilkan manusia-manusia robot dan hanya dapat menerima petunjuk dan pengarahan dari atas. Oleh sebab itu masyarakat bukannya menjadi berdaya tetapi diperdayakan oleh sistem yang otoriter (H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, hlm.21).

Kedua, para pengambil kebijakan pemerintah menjadikan pendidikan sebagai engine of growth, penggerak dan lokomotif pembangunan. Sebagai penggerak pembangunan maka pendidikan harus mampu menghasilkan invention dan innovation, yang merupakan inti kekuatan pembangunan. Dalam prakteknya, agar pendidikan efisien dan efektif, pendidikan harus diorganisir dalam suatu struktur manajemen yang sentralistik agar mudah dikontrol, kurikulum ditentukan dari pusat, dan evaluasi akhir untuk mengukur capaian yang sudah diperoleh bersifat tunggal. Akibatnya pendidikan menjadi kehilangan kreatifitas dan keberagaman menjadi mati dalam praktek pendidikan (Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan universal di era modern dan post modern, hlm. 183).

Untuk membangun masyarakat terdidik, masyarakat yang cerdas, maka mau tidak mau harus merubah paradigma dan sistem pendidikan. Formalitas dan legalitas tetap saja menjadi sesuatu yang penting, akan tetapi perlu diingat bahwa substansi juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan hanya untuk mengejar tataran formal saja. Maka yang perlu dilakukan sekarang bukanlah menghapus formalitas yang telah berjalan melainkan menata kembali sistem pendidikan yang ada dengan paradigma baru yang lebih baik.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang dihasilkan oleh sistem pendidikannya. Oleh sebab itu, meningkatkan peranan pendidikan di dalam mewujudkan suatu masyarakat Indonesia baru merupakan perwujudan gerakan reformasi masyarakat dan bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia baru yang akan kita bangun ialah masyarakat madani Indonesia (H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, hlm. 27).

Terbentuknya masyarakat madani Indonesia yang bhineka tidak terlepas dari terbentuknya kelas menengah. Kelas menengah adalah kelompok masyarakat yang terdidik yang telah memiliki suatu pandangan yang luas. Masyarakat madani Indonesia yang akan kita wujudkan adalah masyarakat dengan sistem politik yang berkedaulatan rakyat. Sistem ekonomi yang bertumpu pada kekuatan ekonomi masyarakat yang berdaya saing tinggi dan bertumpu pada pasar domestik maupun pasar internasional dengan memanfaatkan keunggulan sumber daya domestik. Kehidupan beragama beragama berdasarkan nilai-nilai dan norma agama yang menghormati pluralitas agama. Membangun kehidupan sosial budaya yang beradab dan bermartabat berdasarkan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Sejalan dengan kehidupan dalam era globalisasi maka kita ingin membangun ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertumpukan kepada kemandirian dan daya saing bangsa dengan mengembangkan sumber daya domestik (Lihat: H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, hlm. 30-31, Muhammad S. Hikam, Politik Kewarganegaraan, Bab 14, “kelas Menengah: Motor Penggerak Perubahan,” hal. 205-219).

Pendidikan adalah proses pembudayaan (H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, hlm. 21). Kebudayaan merupakan hasil dari kegiatan manusia, tetapi kebudayaan juga menstrukturisasi tingkah laku manusia. Kebudayaan dari satu pihak memungkinkan pengembangan lebih lanjut, tetapi dari lain pihak juga membatasi apa yang akan dicapai. Maka masalahnya ialah bagaiman manusia tetap menjadi subyek dari kebudayaan, yang mampu mentransformasi kebudayaan yang telah dicapai dan terus menerus kebudayaan baru (M. Sastrapratedja, Apa dan Siapakah Manusia?, dalam tonny D. Widiastono (editor), Pendidikan Manusia Indonesia, hlm. 7).

Relasi manusia dengan lingkungannya atau dengan dunianya menjadi relasi yang diperantarakan, pada saat manusia menciptakan alat-alat, yang merupakan bagian dari kebudayaan, untuk mengendalikan lingkungannya (M. Sastrapratedja, Apa dan Siapakah Manusia?, dalam tonny D. Widiastono (editor), Pendidikan Manusia Indonesia, hlm. 7). Maka ilmu pengetahuan dan teknologi hanyalah bagian dari kebudayaan itu sendiri. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil dari relasi antara manusia dan lingkungannya baik lingkungan alam maupun sosial.

Sehingga Pendidikan sebagai proses pembudayaan harus lebih universal, bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan lebih pada menanamkan dan membangun kebudayaan hingga akan terbangun masyarakat terdidik, masyarakat yang cerdas dan berbudaya. Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi menawarkan lima paradigma baru pendidikan sebagai alternatif pengembangan pendidikan pada masa depan (Ali Maksum & Luluk Yunan Ruhendi, Paradigma Pendidikan universal di era modern dan post modern, hlm. 184-194).

1. Paradigma Sistemik-Organik

Paradigma ini dibangun dari teori ekspansionisme dan teleologis. Ekspansionisme merupakan teori yang menekankan bahwa segala obyek, peristiwa, dan pengalaman merupakan bagian-bagian yang tidak terpisahkan dari suatu keseluruhan yang utuh. Suatu bagian hanya akan memiliki makna kalau dilihat dan dikaitkan dengan totalitas, sebab keutuhan bukan sekedar kumpulan dari bagian-bagian. Keutuhan yang satu dengan yang lain berinteraksi dalam sistem terbuka, karena jawaban suatu problem muncul dalam suatu kesempatan berikutnya (Lihat: Zamroni, Paradigma, hlm. 8).

Sementara teori teleologis, pendidikan harus menghasilkan manfaat bagi perkembangan dan dinamika masyarakatnya. pendidikan senantiasa mengaitkan proses pendidikan dengan masyarakatnya pada umumnya , dan dunia kerja pada khususnya. Keterkaitan ini memiliki arti bahwa prestasi peserta tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka lakukan di lingkungan sekolah, melainkan juga ditentukan oleh apa yang mereka lakukan di dunia kerja dan di masyarakat pada umumnya.

Paradigma sistemik-organik menuntut pendidikan berrsifat fleksibel-adaptif dan kreatif-demokratis. Fleksibel-adaptif, berarti pendidikan lebih ditekankan sebagai suatu proses learning dari pada teaching. Peserta didik dirangsang memiliki motivasi untuk mempelajari sesuatu yang harus dipelajari dan continues learning. Tetapi peserta didik tidak akan dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang tidak ingin dipelajari. Kreatif-demokratis, berarti pendidikan senantiasa menekankan pada suatu sikap untuk senantiasa menghadirkan sesuatu yang baru dan orisinil.

2. Paradigma Holistik-Integralistik

Paradigma pendidikan holistik-integralistik memandang pendidikan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi manusia secara utuh. Manusia dipandang sebagai kesatuan yang bulat, yakni kesatuan jasmani-ruhani, kesatuan makhluk pribadi-makhluk sosial-makhluk Tuhan, kesatuan melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya.

3. Paradigma Humanistik

Paradigma pendidikan humanistik memandang manusia sebagai ”manusia”, yakni makhluk ciptaan tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup. Sebagai makhluk batas (antara hewan dan malaikat), ia memiliki sifat-sifat kehewanan (nafsu-nafsu rendah) dan sifat-sifat kemalaikatan (budi luhur), sebagai makhluk dilematik ia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam hidupnya; sebagai makhluk moral, ia bergulat dengan nilai-nilai; sebagai makhluk pribadi, ia memiliki kekuatan konstruktif dan destruktif; sebagai makhluk sosial, ia memiliki hak-hak sosial; sebagai hamba tuhan, ia harus menunaikan kewajiban-kewajiban keagamaannya.

4. Paradigma Idealistik-Transformatif

Pendidikan idealistik memandang manusia sebagai ”makhluk semulia-mulia makhluk”. yakni makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai misi suci sebagai ”wakil Tuhan diatas bumi”, dengan tugas menata seluruh kehidupan di alam semesta ini. Sebagai ”wakil Tuhan”, manusia secara vertikal berkedudukan sebagai ”hamba” (’Abd) yang harus beribadah dan mengabdi kepada Tuhan, sedangkan secara horisontal manusia sebagai pemimpin (khalifah) yang harus menjadi teladan bagi sesama dan sebagai pengatur dan pellindung atas alam dan kehidupan sekelilingnya.

Kemudian diharapkan dapat ditransformasikan dalam bentuk perilaku aktual anak didik dan setiap warga negara. sehingga ilmu, teori, moral, dan nilai-nilai dalam pendidikan tidak hanya berhenti pada pikiran dan wacana, tetapi dapat hadir dalam tindakan nyata keseharian anak didik dan setiap warga bangsa. Dengan demikian paradigma idealistik-transformatif ini dapat mencegah terjadinya krisis moral, krisis kepercayaan, dan krisis akhlak yang menyebabkan bangsa kita terpuruk dalam bentuk krisis multidimensional akibat dari ilmu, nilai, dan moral yang hanya hadir dalam pikiran tetapi tidak hadir menjadi tindakan.


5. Paradigma Multikulturalisme

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masyarakatnya sangat majemuk atau pluralis. kemajemukan bangsa Indonesiadapat dilihat dari dua sisi; horisontal dan vertikal. secara horisontal, kemajemukan bangsa kita dapat dilihat dari perbedaan agama, etnis, bahasa daerah, geografis, pakaian/makanan dan budaya materialnya. Sementara secara vertikal, kemajemukan bangsa kita dapat diamati dari perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, pemukiman, pekerjaan, dan tingkat sosial budaya (Lihat: Usman Pelly dan Asih Menanti, Teori-teori Sosial Budaya (Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud, 1994), hlm. 68).

Pendidikan berparadigma multikulturalisme mengarahkan anak didik untuk bersikap dan berpandangan toleran dan inklusif. Kita harus apresiatif terhadap budaya orang lain, perbedaan dan keberagaman merupakan kekayaan dan khazanah bangsa kita. Dengan pandangan ini, diharapkan sikap eksklusif dan sikap membenarkan pandangan sendiri (truth claim) dengan menyalahkan pandangan dan pilihan orang lain dapat dihilangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi. 2004. Paradigma Pendidikan universal di era modern dan post modern. Yogyakarta: IRCiSoD

Fuad Hassan. 2004. Pendidikan adalah Pembudayaan, dalam tonny D. Widiastono (editor). 2004. Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Tilaar, H.A.R., Prof., Dr., M.Sc., Ed. 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT RINEKA CIPTA

Sastrapratedja, M. 2004. Apa dan Siapakah Manusia?, dalam tonny D. Widiastono (editor). Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Uyoh Sadullah, Drs. M.Pd. 2003. Pengantar filsafat Pendidikan. Bandung: CV ALVABETA

About these ads

Responses

  1. makasihh yaa… ngebantu tugas kuu ^_^ haduunhh Danke

  2. artikel dapat dijadikan bahan bacaan

  3. mestinya anda baca tulisan asli sebagai sumber jangan ambil sumber dari sumber.

  4. artikel nya bagus bgt. tp menurut anda, apa peran pendidikan dalam era globalisasi???

  5. makalah yang ada boleh dimanfaatkan seperlunya. Hanya saja, kami mohon tetap memperhatikan etika ilmiah. terima kasih

  6. artikel yang bagus !!!

  7. Thank’s


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: