Oleh: arifrizka | Agustus 28, 2007

Berjiwa Besar Dengan Kalimat Syukur

Ditulis oleh: Atpas Feri, S.HI

هذاَ مِنْ فضل ربّي ليبلوني~ أشْكًرً أم أكفًرُ (النمل: 27: 40)

Artinya:”Ini adalah sebagai anugerah tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur. (Qs. An-Naml:27:40)

Setiap umat manusia selalu tidak terlepas dari ujian dan cobaan Nya, hanya saja seberapa kuat hamba tersebut mampu bertahan dijalan Allah selama menerima ujian dan cobaan tersebut. Karena hakikat syukur ialah “menampakan nikmat” dan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya. Juga menyebut-menyebut nikmatnya dan pemberinya dengan lidah Sebagaimana firman Allah yang artinya:”Adapun terhadap nikmat tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutNya (Qs. Adh-Dhuha, 93:11)”.

Dalam Al-Qur’an kata “syukur” dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat kali. Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan dalam beberapa arti dasar dari kata tesebut, yaitu:

Pertama, Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh, hakikatnya adalah merasa ridha atau puas walau sedikit sekalipun: karena itu bahasa menggunakan kata ini (syukur) untuk “kuda yang gemuk namun hanya sedikit membutuhkan rumput”. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan Asykar min Barwaqah (lebih bersyukur dari tumbuhan barwaqah). Walaupun dengan awan yang mendung tanpa hujan. Kedua, Kepenuhan dan kelebatan, pohon yang tumbuh besar dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.

Sementara itu ulama ketika menafsirkan firman Allah, “Bersyukurlah kepadaku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-ku)(Qs. Al-Baqarah,2:152), menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingatkan tuhan tanpa melupakannya, patuh kepadanya tanpa menodainya dan kedurhakaannya. Syukur yang demikian lahir dari keikhlasan kepadaNya. Dan karena itu ketika syaithan menyatakan bahwa “Demi kemulianmu, aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya (Qs. Shad, 38:82), dilanjutkan dengan pernyataan pengecualian, yaitu: “Kecuali hamba-hambamu yang mukhlas diantara mereka Qs. Shad, 38:83)”. Dalam (Qs. Al-‘Araf, 7:17) Iblis menyatakan, Dan engkau tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka (manusia) bersyukur. Kalimat “tidak akan menemukan” disini serupa maknanya dengan pengecualian diatas, sehingga itu berarti bahwa orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang mukhlas (tulus hatinya).

Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi yang sangat penting:

· Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin dengan anugerah

· Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan memuji pemberian Nya.

· Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedangkan Allah SWT sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikitpun dari syukurnya makhluk terhadap diri Nya, hanya saja Allah SWT ingin melihat sejauh mana loyalitas seorang hamba tersebut terhadap diri Nya.

Diatas telah dijelaskan bahwa ada tiga hal yang penting dari syukur, yaitu: dengan hati, lidah dan anggota tubuh lainnya. Berikut akan dirinci penjelasan tentang masing-masing dari sisi tersebut.

1. Syukur dengan hati.

Syukur dengan hati, menyadari sepenuhnya bahwa nikmat maupun rezeki yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggurutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa kemurahan dan kasih sayang ilahi sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepadanya. Qarun mengingkari keberhasilannya atas bantuan ilahi dan menegaskan bahwa itu diperolehnya semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Qur’an sebagai kafir atau tidak mensyukuri nikmatnya, hal ini terdapat dalam Al-Qur’an (Al-Qashas: 76-82).

Seseorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa malapetakapun, boleh jadi dapat memuji tuhan bukan atas malapetaka itu, tetapi karena terbayang dan ingat Olehnya bahwa yang dialaminya pasti lebih kecil dari kemungkinan lain yang dapat saja terjadi. Dari sinilah kalimat syukur dapat diartikan “untung” atau ”merasa lega karena yang dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi”. Dari kesadaran tentang diatas, seseorang akan tersungkur sujud untuk menyatakan perasaan syukurnya kepada Allah.

2. Syukur dengan lidah

Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah SWT sambil memuji Nya. Al-Qur’an sudah mengajarkan bahwa pujian kepada Allah disampaikan melalui redaksi “Alhamdulillah”.

Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji walaupun ia tidak memberi apapun baik kepada sipemuji maupun kepada yang lain. Kata “al” pada “al-hamdulillah” oleh pakar-pakar bahasa disebut sebagai al lil istighraq, yakni mengandung arti “keseluruhan” sehingga kata “al-hamdu” yang ditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah SWT, bahkan seluruh pujian haarus tertuju dan bermuara kepada Nya.

Jika kita mengembalikan segala pujian kepada Allah, itu berarti pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya atau kecantikannya maka pujian tersebut pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah. Disisi lain kalau pada lahirnya ada perbuatan atau ketetapan tuhan yang mungkin oleh kacamata manusia dinilai “kurang baik”. Maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah atas akibat keterbatasan manusia dalam menetapkan tolok ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandangannya sehingga penilaiannya menjadi demikian. Wal hasil, syukur dengan lidah adalah “al-hamdulillah” (segala puji bagi Allah).

3. Syukur dengan perbuatan

Ada sebuah ayat Al-qur’an yang menceritakan pengalaman pahit yang dilukiskan oleh Allah yang telah terjadi terhadap sekian banyak masyarakat bangsa. Antara lain: kaum Saba yaitu satu suku bangsa yang hidup di Yaman dan pernah dipimpin oleh seorang Ratu yang amat bijaksana, namanya Ratu Balqis. Surat (Saba, 34:15-19) menguaraikan kisah mereka, yakni satu masyarakat yang terjalin persatuan dan kesatuannya, melimpah ruah rezekinya dan subur tanah airnya. Negeri merekalah yang dilukiskan oleh Al-Qur’an dengan Baldatun Thoyibatun Warabbun Ghaffur. Mereka pulalah yang diperintah dalam ayat-ayat tersebut untuk bersyukur, tetapi mereka berpaling dan enggan sehingga akhirnya mereka berserak-serakan, tanahnya berubah menjadi gersang, komunikasi dan transportasi antar kota-kotanya yang tadinya lancar menjadi terputus, yang tinggal ahanyalah kenangan dan buah bibir orang saja.

Pada hakikatnya manusia tidak mampu mensyukuri Allah secara sempurna, baik dalam bentuk kalimat-kalimat pujian apalagi dalam bentuk perbuatan. Karena itu ditemukan dua ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukan beberapa orang yang dekat dengannya sekalipun tetap bermohon agar dibimbing, diilhami dan diberikan kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmatnya. Kedua ayat Al-Qur’an (Qs. An-Naml, 27:19) dan (Qs. Al-Ahqaf, 46: 15) mengandung sebab-sebab yang memiliki makna, yaitu:

Pertama, manusia tidak mampu mengetahui bagaimana cara yang sebaik-baiknya untuk memuji Allah, dan karena itu pula Allah mewahyukan kepada manusia pilihannya, kalimat yang sewajarnya mereka ucapkan Tidak kurang dari lima kali ditemukan dalam Al-Qur’an perintah Allah yang berbunyi: Wa Qul “Al-Hamdulillah” (katakanlah Alhamdulillah).

Alasan Kedua, mengapa kita memohon pentunjuk Nya untuk bersyukur adalah karena setan selalu menggoda manusia yang targetnya antara lain adalah mengalihkan mereka dari bersyukur kepada Allah. Surat Al-‘Araf ayat 17 menguraikan sumpah setan dihadapan Allah untuk menggoda dan merayu manusia dari arah depan, belakang, kiri dan kanan meeka sehingga akhirnya seperti ucapan setan yang di abadikan AlQur’an “Engkau (wahai Allah) tidak menemukan kebanyakan mereka yang bersyukur”.

Oleh karena itu, apapun permasalahan yang dihadapi di dunia ini, baik dalam menghadapi susah ataupun senang, sedih ataupun gembira, suka ataupun duka, baik ataupun buruk, cinta ataupun benci, kesemuanya itu pada hakikatnya adalah anugerah ilahi dan juga sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa pada diri setiap insan. Namun, kita sebagai manusia yang masih diberikan umur yang panjang dan murah rezeki harus mensyukuri apa yang telah Allah berikan tersebut.

Walau sekecil apapun rezeki ataupun nikmat yang telah Allah berikan, kita haruslah mensyukurinya. Karena dibalik nikmat yang sedikit itupun pada hakikatnya tersimpan rahasia yang terpendam, yang telah Allah rencanakan buat umatnya dengan pemberian anugerah yang lebih besar melalui jalan lain. Oleh karena itu budaya syukur haruslah tertancap didalam jiwa dan sanubari, sebab tidak ada lagi yang bisa kita lakukan setelah upaya serta usaha yang kita tunjukan kepada Allah dengan hasil yang telah diperoleh selain hanyalah bersyukur kepada Nya.

Selain itu Allah jugalah yang mengatur rezeki, jodoh, kematian, dan masa depan, selama setiap umat memegang prinsip yang yang telah disebutkan dalam Alqur’an: “Allah tidak akan merubah nasib atau potensi yang ada pada diri hamba tersebut, kalau bukan hamba tersebut yang merubah apa yang ada pada dirinya sendiri.

Kalau dihitung-hitung kebesaran anugerah, nikmat dan rezeki yang telah Allah amanahkan kepada manusia, maka manusia tidaklah akan sanggup untuk membayarnya, seperti nikmat kesehatan, nikmat penglihatan, pendengaran, penciuman, segala macam rasa, dan nikmat hidup. Sementara bila salah satu tubuh ada yang sakit, maka manusia selalu membutuhkan biaya yang sangat besar untuk mengobatinya, sementara Allah SWT tanpa meminta apapun dari nikmat kesembuhan pada diri umat. Hanya saja yang Allah lihat adalah apakah kita sebagi manusia mau bersyukur kepadanya atau tidak? oleh karena itu jadilah umat yang bersyukur.


Responses

  1. rangkain kata2 mutiara yg menyentuh qalbu sbg pencerahan qolbu yg glp nan sunyi terima kasih

  2. subhanallah… ana dapat pencerahan nih
    bersyukur banget bisa membaca tulisan tentang syukur ini

    syukran ya….

  3. Assalamualaikum

    Mas arif, sya dah baca webnya bagus2 banget, makasih ya
    boleh dong saya tahu cara2 penambahan fitur2 seperti kalender, jam, download multimedia di blog, sya baru belajar jd belum tahu banyak, thaks a lot ya

    • untuk cara mudahnya, di klik aja fitur2 yg km pengen itu, ntar kan otomatis buka web penyedianya. nah disitu banyak pilihan, smua bergantung pada pemahaman kamu terhadap petunjuk2 itu. intinya kmu ntar ngopy kode html yg dikasih dr situs itu trus dicopy paste aja di widget text…. susah ya…??? add aja ke YMku arif_rizka, ok..???

  4. Sebuah tulisan yang menyentuh hingga memberikan bekas pengetahuan yang layak dimengerti dan dipahami


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: