Oleh: arifrizka | Agustus 28, 2007

Dunia Hanyalah Permadani Pinjaman

Ditulis oleh: Arif Rizka Nurhidayat

Jangan pancangkan kehidupanmu

di atas permadani bumi yang mempesona ini,

karena ia hanyalah sebuah tempat tidur yang terpinjam.

Takutlah bila sewaktu-waktu diminta dan tegulung

Sepenggal renungan sufistik Jalaludin Rumi diatas, begitu panas ditelinga dan menghenyakkan hati. Sebuah sindiran bagi kita semua yang terlalu mengelu-elukan dunia, alam yang hanya dipenuhi dengan “air dan tanah”. Rumi sering mengibaratkan jasad manusia bagaikan air dan tanah, seperti dalam ungkapannya yang lain,

“Kau sekarang adalah roh suci yang terperangkap tanah. Sebelumnya engkau adalah roh suci. Berapa lamakah engkau akan terpisah darinya?

Aku tidak akan mengatakan sesuatu pun, apakah sudah kau pertimbangkan dengan seksama?

Engkau tidak akan mengenali diri sendiri dari dalam jubahmu, sebab ia telah kau lumuri dengan air dan tanah.”

“Jika engkau bersedia memperhatikan, maka engkau akan melihat bahwa segala yang baik itu bersemayam dalam hati. Dan segala yang hina itu berasal dari air dan tanah”.

Hati manusia pada mulanya adalah suci, hingga ketamakan menguasai diri kita dan banyak melakukan perbuatan dosa hanya untuk “memuaskan” ketamakan yang tak pernah berujung. Setiap perbuatan dosa yang dilakukan akan memberikan setitik noda dalam hati, dan akan terus bertambah sampai menutupi seluruh hatinya. Sebagaimana dalam hadits,

“ Sesungguhnya jika seorang mukmin melakukan dosa, maka ada setitik noda hitam di dalam hatinya, dan jika ia bertaubat dan tidak mengulangi lagi dengan penyesalan yang sungguh, jernihlah hatinya. Dan jika ia berbuat dosa lagi maka akan bertambah noda itu hingga menutupi hatinya”. (HR An-Nasa’I dan At-Turmudzi, hadits ini Hasan Shahih).

Manusia terperangkap dalam kubangan dunia

Begitu banyak manusia yang telah terlena dan menjadikan dunia ini sebagai tujuan, mereka bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Padahal dunia ini hanyalah hamparan permadani yang dipinjamkan untuk manusia. Yang suatu saat pasti akan “digulung” dan “diminta” kembali oleh pemiliknya. Dunia telah “merayu” banyak manusia untuk melakukan perbuatan dosa, yang melumuri kesucian hatinya, maka tertutuplah hatinya dari semua kebaikan. Dan ia takkan bisa melihat cahaya Allah dan tersesat dalam kegelapan. Sebagaimana firman Allah,

“perumpamaan mereka adalah seperti yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat”. (QS Al-Baqarah :17)

Rumi memberikan kiasan untuk manusia yang telah terjerumus dalam kubangan dunia melalui syairnya,

“Kafilah Ghaib memasuki dunia kasat mata, tapi tetap tidak terlihat oleh mata jahat. Mungkinkah wanita jelita bertingkah untuk menarik perhatian laki-laki yang buruk rupa?.”

Inilah perumpamaan bagi orang-orang yang rela “menjual” keimanannya untuk mendapatkan dunia, yang hanya mengotori hati dan meredupkan cahaya yang selalu menyinari hati dari kegelapan dunia. Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya bagi manusia, hanya saja mata hati yang telah tertutupi oleh noda-noda kemaksiatan tiada bisa melihat hidayah itu.

Banyak manusia menumpuk-numpuk harta dengan cara yang tidak halal. Padahal ia takkan membawa hartanya ketika mati. Dan kelak akan ditanyakan kepadanya dari mana ia mendapatkan harta itu dan ia gunakan untuk apa. Seringkali manusia lalai terhadap Allah ketika telah silau akan kilauan harta. Harta dan kekayaan lebih ia cintai daripada Allah, tuhan pemilik alam semesta, Dzat yang mahakaya. Mereka memuja-muja dan “menyembah” harta kekayaan mereka melebihi kecintaannya kepada Allah sebagaimana telah disindir dalam Firman-Nya,

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Adapun orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”.(QS Al-baqarah: 165)

Manusia saling berebut kekuasaan dan jabatan, tak jarang pula yang sampai menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkannya. Dan ketika sudah mendapatkannya mereka berbuat dhalim dengannya hingga menimbulkan banyak kerusakan, serta kesengsaraan bagi masyarakat. Mereka tidak sadar bahwa setiap kepemimpinan pasti akan dimintai pertanggung jawaban. Sebagaimana sabda Rasul,

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban” (Hadits diriwayatkan Bukhari-Muslim)

setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Mengendalikan seluruh anggota tubuhnya agar selalu memuja Tuhannya dan tidak berbuat dhalim. Dan tercermin dengan beribadah menyembah kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena manusia memang diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada Allah.

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (menyembah) kepada-Ku”.(QS Adz-dzariyat : 56)

Dunia Hanyalah Sarana Mencapai “Negeri Indah” nan Kekal

Dunia memang seringkali melumuri kesucian hati, dan menjadi sumber kemaksiatan. Tapi bukan berarti kita harus meninggalkan jauh-jauh “Permadani Pinjaman” ini, untuk kemudian berdiam diri di masjid dan selalu bersenandung pujian dan dzikir kepada Allah. Layaknya kita meminjam, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaganya dari kerusakan dan kehancuran yang diakibatkan tangan-tangan jahil. Dunia ini adalah amanah dari Allah untuk manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an,

“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “ sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”(QS Al-Baqarah : 30).

Tidak salah pula jika kita mencari harta kekayaan. Akan tetapi dengan jalan yang dibenarkan oleh syari’at serta memembelanjakannya untuk hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at juga. Karena kita juga mempunyai keluarga yang juga berhak atas penghidupan yang layak. Justru kita akan berdosa jika kita menelantarkan mereka, meskipun kita habiskan waktu kita untuk berdzikir kepada Allah sepanjang waktu. Masing-masing memiliki hak, dan kita harus memenuhi hak tersebut sesuai kadar masing-masing.

“Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu dan sesungguhnya dirimu mempunyai hak atasmu, serta keluargamu mempunyai hak atasmu maka berikanlah setiap hak-haknya tersebut”( Hadits diriwayatkan oleh Bukhori)

Menjadi kewajiban kita juga untuk mengajak orang lain menjalankan ibadah kepada Allah dan mencegah kemungkaran, sebagai wujud “penjagaan” dunia ini dari “kehancuran” akibat ulah tangan-tangan jahil. Karena jika kita membiarkan kemaksiatan merajalela, secara tidak langsung kita ikut merusak tatanan yang telah diatur oleh Allah untuk dunia ini.

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS ‘Ali-Imran : 104)

Sebaiknya tidak kita tinggalkan kehinaan dunia ini, akan tetapi marilah bersama-sama kita jaga “Permadani Pinjaman” ini dari “tangan-tangan kotor” yang bisa mengotori dan merusaknya. Tentunya dengan terlebih dahulu membersihkan “tangan kita” dari “kotoran”. Kita jadikan dunia ini sebagai sarana dan fasilitas dari Allah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di Akherat nanti. Kita tunjukkan bahwa kita mampu menjaga “Permadani Pinjaman” ini. Wallahu a’laam bish shawab..!!


Responses

  1. Jamdatatmja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: