Oleh: arifrizka | Agustus 28, 2007

Hukum Jual Beli Pupuk Kandang

Oleh : ARIF RIZKA NURHIDAYAT

      Abstraksi

    Pupuk di masyarakat kita, yang mayoritas petani, bukanlah hal yang “baru”. Penggunaannya jelas, yaitu untuk menyuburkan tanaman, atau juga dimaksudkan untuk menghasilkan hasil tanaman yang “lebih” dari biasanya. Dengan demikian, pupuk diharapkan dapat menunjang dalam mewujudkan keinginan petani tersebut.

    Ada dua jenis pupuk yang selama ini dikenal masyarakat; pupuk organic (kandang dan hijau) dan pupuk anorganik (sintesa pabrik). Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan, seperti kotoran kambing, sapi dan sebagainya. Adapun pupuk anorganik adalah pupuk yang diperoleh bukan dari kandang, melainkan dibuat dari unsure-unsur kimia, atau juga mungkin dari pupuk kandang yang dicampur dengan bahan-bahan kimiawi. Pada umumnya, pupuk kandang bisa dikatakan lebih ramah lingkungan dibandingkan pupuk anorganik. Hal ini dikarenakan pada pupuk kandang memang tidak ada bahan-bahan “kimiawi” seperti yang ada di pupuk anorganik, yang dapat mencemari atau bahkan merusak lingkungan.

    Persoalannya, pupuk tersebut, apakah pupuk kandang ataupun pupuk anorganik, tidaklah selalu bisa didapatkan “sendiri” oleh petani, sehingga mereka seringkali harus membelinya dari pihak lain yang menyediakan pupuk tersebut. Nah, di sinilah persoalan fiqhiyah (mu’amalah) muncul. Dalam pupuk kandang, bahan yang dijualbelikan itu termasuk “najis”. Sementara jual beli najis “dilarang” dalam fiqih Islam. Kemudian bagaimanakah jual beli pupuk kandang yang memiliki manfaat cukup besar dan ramah lingkungan.


    Rumusan masalah

      Dari abstraksi tadi dapat kita rumuskan masalah yang hendak kita bahas:

      1. Bagaimana hokum jual beli najis ?
      2. bagaimana hokum jual beli pupuk kandang, yang bahan-bahannya merupakan najis .

      Landasan Teori

      Dari rumusan masalah diatas maka kami membatasi pembahasan ini pada masalah jual beli najis saja, dan lebih spesifik lagi pada jual beli pupuk kandang. Sehingga kami membagi dalam dua pembahasan yaitu najis, sebagai dasar penentuan jenis najis pupuk kandang, dan jual beli najis.

      Najis

        Dalam buku fiqih Islam karya Sulaiman rasyid, berdasarkan cara mensucikannya, najis dibagi menjadi 3:

        1. Najis Mughaladhah, yaitu najis yang besar dan cara mensucikannya dengan dibasuh sebanyak tujuh kali dan salah satunya dicampur dengan tanah, seperti najis anjing dan babi
        2. Najis mukhafafah, najis yang tingkatannya ringan, yaitu kencing anak laki-laki yang belum memakan makanan lain selain nasi. Cara mensucikannya cukup memercikkan air meskipun tidak mengalir.
        3. Najis Mutawasithah, najis yang bukan termasuk dari kedua najis tersebut, dan terbagi menjadi 2:

        Najis hukmiah, najis yang kita yakini adanya, tetapi tidak nyata zat, bau, rasa, dan warnanya, seperti kencing yang sudah lama kering. Cara mensucikannya dengan mengalirkan air diatas benda yang terkena najis.

        Najis ‘ainiyah, najis yang masih ada zat, bau, rasa, dan warnanya. Cara mensucikannya yaitu dengan menghilangkan zat, bau, rasa, dan warnanya.

        Benda-benda yang termasuk najis diantaranya:

        Bangkai binatang darat yang berdarah selain dari mayat manusia

        Darah

        Nanah

        Segala cair yang keluar dari dua pintu, selain mani

        Khamr

        Anjing dan babi

        Bagian badan binatang yang diambil dari tubuhnya selagi masih hidup

           

              Jual beli najis

          Dalam kitab Bidayatul Mujtahid, disebutkan bahwa dasar yang digunakan dalam menghukumi jual beli najis adalah hadits dari jabir tentang diharamkannya jual beli khamr, bangkai, babi, dan berhala. Karena empat hal tersebut adalah najis, maka kemudian di generalisasi bahwa najis tidak boleh diperjual belikan.

           

          قال رسول الله: ان الله و رسوله حرما بيع الخمر و الميتة و الخنزير والا صنام, فقيل: يا رسول الله ارايت شحوم الميتة فانه يطلى بها السفن ويستصبح بها؟ فقال: لعن الله اليهود حرمت الشحوم عليهم فباعوها و اكلوا اثما نها, و قال فى الخمر: ان الذى حرم شربها حرم بيعها

          Pupuk kandang, jika kita melihat dari pembagian najis termasuk dalam najis mutawasithah. Dalam kitab Al-fiqhul Islamiyah wa adilatuhu karya Dr. Wahbah Az-Zuhaily, disebutkan beberapa pendapat madzhab tentang jual beli najis.

          Madzhab Hanafiy

            Tidak diperbolehkan jual beli khamr, babi, bangkai, dan darah. Karena bukan termasuk harta ashl. Dan makruh jual beli kotoran tinja, serta diperbolehkan jual beli kotoran sebagai pupuk karena memiliki manfaat.

            Bahkan lebih jauh lagi, imam hanafiy memperbolehkan jual beli anjing, dengan alasan merupakan maal dan memiliki manfaat. Dan boleh memperjualbelikan najis yang memiliki nilai manfaat, asalkan tidak untuk dimakan atau diletakkan di masjid.

            Maka apa saja yang memiliki nilai manfaat yang dihalalkan secara syar’iy, boleh diperjualbelikan. Karena segala sesuatu diciptakan untuk bisa dimanfaatkan manusia, berdasar firman Allah yang artinya: “ Ia menciptakan bagi kamu semua apa yang ada di bumi”.

            Madzhab Malikiy

              Tidak diperbolehkan jual beli khamr, babi, bangkai, dan darah, berdasarkan hadits dari jabir tersebut. Dan tidak boleh juga jual beli anjing karena juga termasuk najis.

              Madzhab malikiy tidak membolehkan jual beli pupuk dari kotoran hewan yang dagingnya haram dimakan. Akan tetapi diperbolehkan jual beli kotoran sapi, kambing, dan onta untuk digunakan sebagai pupuk. Madzhab ini juga berpendapat bahwa tidak boleh jual beli mutanajis yang tidak mungkin disucikan, dan diperbolehkan jual beli mutanajis yang masih munglin disucikan.

              Madzhab Syafi’iy

                Tentang jual beli najis dan mutanajis, madzhab syafi’I identik dengan madzhab malikiy. Hanya saja madzhab syafi’iy tidak membolehkan jual beli kotoran untuk digunakan sebagai pupuk, baik kotoran tersebut dari hewan yang halal dimakan maupun tidak.

                Dan madzhab syafi’iy menambahkan harus adanya faktor manfaat dalam jual beli, selain faktor suci. Sehingga setiap barang yang diperjualbelikan harus suci dan memiliki manfaat.

                Madzhab Hambaliy

                  Pendapat madzhab Hambaliy sama dengan pendapat madzhab syafi’iy yang mengharuskan suci dan memiliki nilai manfaat. Namun untuk jual beli kotoran sebagai pupuk madzhab Hambaliy memperbolehkannya, jika kotoran tersebut berasal dari hewan yang bukan najis.

                  Pembahasan

                    Dari pendapat keempat madzhab tersebut, hokum jual beli pupuk kandang dapat kita golongkan menjadi tiga pendapat,

                    1. Boleh secara mutlak, ini merupakan pendapat madzhab hanafiy
                    2. Boleh asalkan kotoran yang dijadikan pupuk kandang berasal dari hewan yang halal dimakan, ini merupakan pendapat madzhab Malikiy dan madzhab Hanbaliy
                    3. Tidak boleh karena termasuk kategori najis, dan jual beli selain mensyaratkan barang yang diperjualbelikan harus bermanfaat juga harus suci, ini pendapat madzhab Syafi’iy.

                    Kalau kita melihat segi manfaat, pupuk kandang amatlah bermanfaat. Selain membuat tanah lebih subur, juga tidak akan menyebabkan tanah mengalami kerusakan kimiawi sebagaimana yang diakibatkan oleh pupuk sintetis.

                    Akan tetapi memang yang menjadi permasalahan adalah pupuk kandang merupakan najis, yang haram untuk diperjualbelikan. Namun jika kita cermati, dari keempat hal yang disebutkan dalam hadits diatas, yaitu berhala, yang ketika itu menjadi sesuatu yang disembah dan membawa manusia kepada kemusyrikan serta tidak memiliki nilai manfaat yang sesuai dengan syariat. Dan ketiga hal yang lainnya yaitu, khamr, babi, dan Bangkai merupakan barang-barang yang diharamkan secara syar’iy untuk dikonsumsi.

                    Dan masih menurut hadits dari jabir diatas, bahwa memanfaatkan lemak babi untuk penerangan dilarang oleh Rasulullah. Memang lemak babi sangat bermanfaat sebagai alat penerangan, akan tetapi sumbernya berasal dari sesuatu yang diharamkan secara syar’iy.

                    Sehingga illat hokum yang bisa kita ambil dari hadits tersebut adalah barang yang tidak memiliki nilai manfaat secara syar’iy, dan barang yang memiliki nilai manfaat tetapi berasal dari sesuatu yang diharamkan secara syar’iy. Adapun pupuk kandang tidak mengandung illat tersebut, karena memiliki nilai manfaat dan tidak berasal dari sesuatu yang diharamkan oleh syar’iy.

                    Sehingga pemakalah lebih condong kepada pendapat kedua, yaitu bahwa diperbolehkan jual beli pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan yang halal untuk dikonsumsi. Selain itu jika jual beli pupuk kandang ini dilarang, akan menimbulkan kesukaran bagi masyarakat, khususnya petani. Dan penggunaan pupuk sintetis akan menimbulkan efek yang lebih besar, yaitu kerusakan lingkungan.

                    Kesimpulan

                      Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa jual beli pupuk kandang adalah boleh. Karena memiliki manfaat yang besar terutama bagi petani,agar memberikan hasil yang lebih. Sedangkan hadits dari jabir diatas menurut pemakalah, dapat difahami bahwa najis yang dilarang untuk diperjualbelikan adalah najis yang tidak mengandung nilai manfaat sesuai syar’iy, atau mengandung nilai manfaat tetapi bersumber dari sesuatu yang diharamkan menurut syar’iy.

                       

                      Daftar Pustaka

                      Ibnu Rusyd al-hafid, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Semarang: Thoha Putra

                      Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, 2001, Bandung: Sinar Baru algesindo

                      Wahbah Az-Zuhailiy. Dr. Al-fiqh Al-islamiy wa Adilatuhu, 1989, Syiria: Daarul Fikri


                      Responses

                      1. Saya juga sangat butuh tentang informasi jual beli kompos ini

                      2. semoga allah memberkahi kita semua amin.

                      3. sebaiknya kita hormati imam syafi’iy selaku madzhab yg mendominasi negara kita, cuma berikanlah solusi dengan tafriq ash shofqoh ato dengan di bedakannya akad, yaitu kita akad uang yg kita berikan sebagai upah bagi yg punya pupuk tadi krena telah menjual jasa mengumpulkan pupuk itu dan pupuk itu sebagai pemberian saja

                      4. Tp tk .garis fatwa dan wakwa ambl pndpt mazhab imam syafii

                      5. Kalau kesimpulannnya boleh berjualan pupuk organik dari kotoran binatang seperti sapi, kambing, burung atau kelelawar, saya sangat lega karena terus terang saya menjual pupuk organik guano phosphat dari kotoran kelelawar. Jika ada yang mau memberikan masukan kepada saya silahkan email priyadibambang@gmail.com atau telp/sms 08158967729, terima kasih banget.

                      6. Kalau kesimpulannnya boleh berjualan pupuk organik dari kotoran binatang seperti sapi, kambing, burung atau kelelawar, saya sangat lega karena terus terang saya menjual pupuk organik guano phosphat dari kotoran kelelawar.


                      Tinggalkan Balasan

                      Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

                      Logo WordPress.com

                      You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

                      Gambar Twitter

                      You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

                      Foto Facebook

                      You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

                      Foto Google+

                      You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

                      Connecting to %s

                      Kategori

                      %d blogger menyukai ini: